Kamis, 10 November 2011

BAB 6 Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Pembelajaran


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Dalam pendidikan, kegiatan pembelajaran tidaklah selalu berjalan dengan baik sesuai dengan harapan kita, namun ada beberapa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan dalam proses pendidikan tersebut. Untuk itu kita harus terlebih dahulu mengetahui apa-apa saja
yang termasuk kedalam komponen pendidikan, seperti faktor pendukung dalam pembelajaran maupun faktor penghambat dalam pembelajaran. Oleh karena itu, di makalah ini, kedua faktor tersebut dijelaskan.
B.     Masalah
Adapun yang menjadi masalah dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
a.       Bagaimana peran komponen pendukung pendidikan dalam keberhasilan proses pendidikan
b.      Bagaimana peran komponen penghambat pendidikan dalam proses pendidikan.
C.    Tujuan Penulisan
Adapun yang menjadi tujuan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
a.       Untuk memenuhi tugas mata kuliah strategi dan teknologi pembelajaran.
b.      Untuk mengetahui sejauh mana peran komponen pendidikan terhadap keberhasilan dalam proses pendidikan.
Bab II Pembahasan
Komponen-komponen Pendukung dan Penghambatan dalam Proses Pendidikan
A.      Komponen pendukung
Komponen adalah bagian dari suatu system yang memiliki peran dalam keseluruhan berlangsungnya suatu proses untuk mencapai tujuan system. Komponen pendidikan berarti bagian-bagian dari system proses pendidikan yang menentukan berhasil dan tidak. Pertama, komponen  perangkat  keras  (hardware), yang  meliputi  ruangan  belajar,  peralatan praktik, laboratorium, perpustakaan; kedua, komponen perangkat lunak (software) yaitu meliputi kurikulum, program  pengajaran,  manajemen  sekolah,  system pembelajaran; ketiga, apa yang disebut dengan perangkat pikir (brainware) yaitu menyangkut keberadaan guru, kepala sekolah, anak didik dan orang-orang yang terkait dalam proses pendidikan itu sendiri.
Dari tiga kelompok komponen di atas, maka yang menjadi penentu aknya proses pendidikan. Bahwa dapat diartikan untuk berlangsungnya proses pendidikan yang sukses dan berhasil diperlukan beberapa komponen-komponen pendukung.
Ada  beberapa  komponen  yang  menentukan  kesuksesan  dan  keberhasilan dalam pendidikan. Komponen-komponen itu dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok. Suksesnya belajar dan berhasilnya suatu pendidikan sangat (dominan) ditentukan oleh komponen tenaga pendidik, dalam hal ini guru di sekolah. Meskipun  di  suatu  sekolah fasilitasnya memadai, bangunannya bertingkat; meskipun kurikulumnya lengkap, program pengajarannya hebat, manajemennya  ketat,  sistem  pembelajarannya  oke,  tapi  para  tenaga pengajarnya (guru) sebagai aplikator di lapangan tidak memiliki kemampuan (kualitas) dalam penyampaian materi, cakap menggunakan alat-alat tekhnologi yang  mendukung pembelajaran,  maka  tujuan  pendidikan  akan  sulit  dicapai sebagaimana mestinya. Disini hendaknya setiap guru harus memahami fungsinya karena sangat besar pengaruhnya terhadap cara bertindak dan berbuat dalam menunaikan pekerjaan sehari-hari dikelas dan di masyarakat. Guru yang memahami kedudukan dan fungsinya sebagai pendidik professional, selalu terdorong untuk tumbuh dan berkembang sebagai perwujudan perasaan dan sikap tidak puas terhadap pendidikan. Persiapan yang harus diikuti, hendaknya sejalan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (Nawawi, 1989:121). Mantan Mendikbud, Fuad Hassan juga pernah mengingatkan, bahwa tanpa guru yang menguasai materinya mustahil suatu sistem pendidikan berikut kurikulum serta muatan kurikulernya dapat mencapai hasil sebagaimana yang diidealkan.
B.       Komponen Penghambat
Selain komponen pendukung, tentu juga ada komponen penghambatnya. Hambatan itu bisa datang dari guru sendiri, dari peserta didik, lingkungan keluarga ataupun karena factor fasilitas (Nawawi, 1989:130).
a.       Guru
Guru sebagai seorang pendidik, tentunya ia juga mempunyai banyak kekurangan. Kekurangan-kekurangan itu bisa menjadi penyebab terhambatnya kreatifitas pada diri guru tersebut. Diantaranya ialah:
1.    Tipe kepemimpinan guru
Tipe kepemimpinan guru dalam proses belajar mengajar yang otoriter dan kurang demokratis akan menimbulkan sikap pasif peserta didik. Sikap peserta didik ini merupakan sumber masalah pengelolaan kelas. (Rohani dan Ahmadi, 1991:151).
Siswa hanya duduk rapi mendengarkan dan berusaha memahami kaidah-kaidah pelajaran yang diberikan guru tanpa diberikan kesempatan untuk berinisiatif dan mengembangkan kreativitas dan daya nalarnya (Masnur dkk, 1987:109).
2.    Gaya guru yang monoton
Gaya guru yang monoton akan menimbulkan kebosanan bagi peserta didik, baik berupa ucapak ketika menerangkan pelajaran ataupun tindakan. Ucapan guru dapat mempengaruhi motivasi siswa.
3.      Kepribadian guru
Seorang guru yang berhasil, dituntut untuk bersifat hangat, adil, obyektif dan bersifat fleksibel sehingga terbina suasana emosional yang menyenangkan dalam proses belajar mengajar. Artinya guru menciptakan suasana akrab dengan anak didik dengan selalu menunjukan antusias pada tugas serta pada kreativitas semua anak didik tanpa pandang bulu.
4.      Pengetahuan guru
Terbatasnya pengetahuan guru terutama masalah pengelolaan dan pendekatan pengelolaan, baik yang sifatnya teoritis maupun pengalaman praktis, sudah barang tentu akan menghambat perwujudan pengelolaan kelas dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, pengetahuan guru tentang pengelolaan kelas sangat diperlukan (Wijaya dan Rusyan, 1994:136).
5.      Terbatasnya kesempatan guru untuk memahami tingkah laku peserta didik dan latar belakangnya
Terbatasnya kesempatan guru untuk memahami tingkah laku peserta didik dan latar belakangnya dapat disebabkan karena kurangnya usaha guru untuk dengan sengaja memahami peserta didik dan latar belakangnya. Karena pengelolaan pusat belajar harus disesuaikan dengan minat, perhatian dan bakat para siswa, maka siswa yang memahami pelajaran secara cepat, rata-rata dan lamban memerlukan pengelolaan secara khusus menurut kemampuannya. Semua hal diatas member petunjuk kepada guru bahwa dalam proses belajar mengajar diperlukan pemahaman awal tentang perbedaan siswa satu sama lain (Wijaya dan Rusyan, 1994:136).
b.      Peserta didik
Peserta didik dalam kelas dapat dianggap sebagai seorang individu dalam suatu masyarakat kecil yaitu kelas dan sekolah. Mereka harus tahu hak-haknya sebagai bagian dari suatu kesatuan masyarakat disamping mereka juga harus tahu akan kewajibannya dan keharusan menghormati hak-hak orang lain dan teman-teman sekelasnya.
Oleh karena itu, diperlukan kesadaran yang tinggi dari peserta didik akan hak serta kewajibannya dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar.

c.       Keluarga
Tingkah laku peserta didik didalam kelas merupakan pencerminan keadaan keluarganya. Sikap otoriter dari orang tua akan tercermin dari tingkah laku peserta didik yang agresif dan apatis. Problem klasik yang dihadapi guru memang banyak yang berasal dari lingkungan keluarga. Kebiasaan yang kurang baik dari lingkungan keluarga seperti tidak tertib, tidak patuh pada disiplin, kebebasan yang berlebihan atau terlampau terkekang merupakan latar belakang yang menyebabkan peserta didik melanggar di kelas.
d.      Fasilitas
Fasilitas yang ada merupakan factor penting upaya guru memaksimalkan programnya, fasilitas yang kurang lengkap akan menjadi kendala yang berarti bagi seorang guru dalam beraktifitas. Kendala tersebut ialah:
1.                       Jumlah peserta didik didalam kelas yang sangat banyak
2.    Besar atau kecilnya suatu ruangan kelas yang tidak sebanding dengan jumlah siwa
3.    Keterbatasan alat penunjang mata pelajaran (Rohani dan Ahmadi, 1992: 152-154).

2 komentar:

  1. terimaksh bermanfaat sekali....tapi sya boleh mnta literaturnya g?

    BalasHapus
  2. terima kasih banyak sangat bermanfaat sekali

    BalasHapus